Salah satu karunia Allah Ta’alla yang diberikan kepada umat-Nya di zaman ini adalah adanya kemajuan Ilmu Teknologi yang sering disingkat IT. Betapa banyak urusan pekerjaan yang saat ini dengan kemajuan teknologi dapat diselesaikan dengan cepat, instant serta dengan cara yang lebih mudah.
Pada sisi lain ternyata keberadaan kemajuan teknologi yang ada ini mengakibatkan efek negatif yang luar biasa. Bahkan dapat menimbulkan kerusakan pada jiwa manusia.
Salah satu penyakit yang muncul akibat pemakaian teknologi ini adalah kecanduan game yang dalam istilah medis disebut adiksi. Ada pula yang menyebutnya sebagai gaming disorder. Saat seseorang mengalami gaming disorder, maka ada perubahan fungsional dan struktural dalam sistem saraf, terutama pada sistem yang mengatur perasaan senang, belajar, dan motivasi.
Tulisan ini penulis angkat karena maraknya keluhan dan berbagai kasus anak bermain game di masa pandemi saat ini. Yakni saat sekolah secara nasional menerapakan sistim belajar on-line. Permasalahan terkait permaianan game oleh para siswa terutama menggunakan gadget bermunculan kasus bak jamur tumbuh di musim hujan. Banyak sekali penyalahgunaan gadget yang dimanfaatkan untuk bermain game lebih banyak daripada digunakan sebagai sarana pembelajaran.
Kecanduan game atau adiksi merupakan gangguan jiwa/ mental berupa adanya dorongan dan keinginan untuk bermain game secara berlebihan hingga melalaikan berbagai tugas dan pekerjaan serta aktifitas lainnya seperti belajar, mengerjakan tugas dan sebagainya. Gangguan jiwa ini dapat dialami oleh siapa saja baik anak anak, kalangan remaja dan orang dewasa sekalipun.
Bermain game online dapat memberikan dampak negatif baik secara sosial, psikis, dan fisik. Remaja yang bermain game online, secara sosial hubungan dengan keluarga dan teman menjadi berkurang, sebab pergaulan remaja sebatas di online game saja. Dampak secara psikis, remaja yang mengalami kecanduan akan terus memikirkan game yang sering dimainkan, sulit berkonsentrasi dalam belajar atau bekerja, melakukan apapun untuk bisa bermain game lagi ( Mahardika – 2006 ).
Beberapa gejala yang muncul sebagai gejala terjangkitnya kecanduan antara lain memiliki keinginan bermain game setiap waktu, merasa murung, stres atau marah ketika tidak bisa bermain game, banyak memanfaatkan waktu untuk bermain agar merasa lebih baik. Mengalami masalah di rumah, sekolah, atau kantor terkait kebiasaan bermain game.
Selain berbagai gejala psikologis di atas, anak yang kecanduan game online juga bisa mengalami gejala fisik, seperti mudah lelah, sakit kepala, migrain, nyeri punggung, dan mata berkunang-kunang.
Pada kasus yang sudah parah, pecandu game online bahkan bisa mengalami gangguan pada saraf tangan karena terlalu sering bermain game dalam waktu lama.
Ada banyak sekali faktor penyebab munculnya kecanduan game pada anak – anak. Beberapa penyebab yang secara umum terjadi antara lain :
1. Karena kurangnya pengawasan dari orangtua
Kecenderungan manusia memang ditaqdirkan oleh Allah memiliki suka dengan hal – hal yang menyenangkan, berasa nyaman,enjoy dengan suasana santai, bermalas malasan dan yang sejenisnya.keluarga.
Inilah yang sering disebut sebagai nafsu lawwamah. Apabila anak tidak dikendalikan bahkan terabaikan dan lepas dari pantauan orangtua maka anak akan melakukan apa saja yang menyenangkan hatinya tanpa berpikir panjang, termasuk bermain game.
Penulis sendiri secara langsung menemukan kasus ini terjadi pada anak anak yang kurang pengawasan orangtua. Ada yang ditinggal oleh orangtuanya merantau. Ada pula yang ditinggal kerja pergi pagi pulang petang. Selama dalam kesendirian dan tidak ada pengawasan inilah anak memanfaatkan kesempatan untuk bermain game secara berlebihan.
Ada pula anak yang hidup bersama kedua orangtuanya namun orangtuanya kurang mengawasi. Misalnya saat anak telah pulang sekolah dan anak belum sampai rumah tidak ada pencarian. Ternyata anak mampir di warnet atau ke temannya bermain game.
Therapi kasus seperti ini tentu saja pada orangtua. Orangtua harus memberikan porsi perhatian berupa pengawasan dan pantauan terhadap kegiatan harian anak. Apabila sudah waktunya pulang sekolah, orangtua harus segera mencari apabila belum sampai di rumah.
Apabila orangtua memberikan sarana HP maka dapat memanfaatkan fitur Parental Control untuk memantau penggunaan HP oleh anak. Orangtua dapat kontroling seluruh aktifitas anak bersama HP yang ada di tangannya dengan aplikasi yang bisa dipasang di HP.
2. Merasa kesepian dan kurang aktifitas
Anak anak dan remaja yang bermain game sebagai coping emosi sejalan dengan riset Ezrananta (2016) yang mengungkapkan bahwa remaja yang mengalami kesepian akan berusaha untuk mengatasi kesepian dengan bermain game online.
Anak – anak dan masa remaja adalah masa proses pertumbuhan fisik dan psikis melaju dengan sangat pesat. Pada masa ini kinerja otak berjalam sangat aktif dan cepat. Dalam keadaan demikian membutuhan media dan penyaluran kreatifitas dan aktifitas. Apabila tidak ada sarana dan media yang disediakan bagi anak anak dan remaja, maka anak akan mencari altenatif yang bermain game termasuk salah satunya.
Syariat Islam memberikan solusi pencegahan atas masalah ini. Sebagaimana Rasulullah bersabda ” Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu”. Dalam hadist yang diriwayatkan Imam Al Bukhori ini memerintahkan agar umat Islam memanfaatkan waktu seoptimal mugki untuk berbagai macam nerakatifitas. Aktifitas apa saja sangat dianjurkan dengan catatan bermanfaat.
Apabila orangtua mengkondisikan jadwal kegiatan anak setiap hari penuh dengan acara yang bermanfaat maka akan tidak punya waktu untuk bermain game. Dengan demikian anak akan selamat dari terjerumus dalam permainan game. Mendaftarkan anak di berbagai jenis lembaga pendidikan, kursus dan latihan sesuai dengan bakat dan potensi anak bisa diupayakan oleh orangtua.
3. Kurang beraktifitas yang menyegarkan psikis
Kejenuhan beraktifitas bisa menjadi pemicu anak bermain game. Aternatif solusinya adalah mengajak dan membiaskan anak berktifitas di liuar rumah. Therapi mengajak beraktifitas di luar rumah dikemukakan oleh dokter Devia Irine Putri di laman konsultasi on-linenya.
Dengan mengajak anak beraktifitas di luar rumah akan menjdikan pikiran dan perasaan hati anak senang dan selalu segar. Dengan suasana hati yang bugar akan kecil kemungkinan lari ke permainan yang berbahaya seperti game.
Salah satu aktifitas positif bahkan dapat memupuk keimanan anak adalah mengajak anak ke masjid untuk sholat berjama’ah. Jika setiap hari secara rutin dikerjakan sebanyak lima kali sholat fardhu, maka betapa aktifitas ini sangat signfikan memberi upaya prefentif sekaligus kuratif bagi anak dari kecanduan game.
4. Merasa kesepian dan kurang aktifitas
Anak anak dan remaja yang bermain game sebagai coping emosi sejalan dengan riset Ezrananta (2016) yang mengungkapkan bahwa remaja yang mengalami kesepian akan berusaha untuk mengatasi kesepian dengan bermain game online.
Anak – anak dan masa remaja adalah masa proses pertumbuhan fisik dan psikis melaju dengan sangat pesat. Pada masa ini kinerja otak berjalam sangat aktif dan cepat. Dalam keadaan demikian membutuhan media dan penyaluran kreatifitas dan aktifitas. Apabila tidak ada sarana dan media yang disediakan bagi anak anak dan remaja, maka anak akan mencari altenatif yang bermain game termasuk salah satunya.
Syariat Islam memberikan solusi pencegahan atas masalah ini. Sebagaimana Rasulullah bersabda ” Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu”. Dalam hadist yang diriwayatkan Imam Al Bukhori ini memerintahkan agar umat Islam memanfaatkan waktu seoptimal mugki untuk berbagai macam nerakatifitas. Aktifitas apa saja sangat dianjurkan dengan catatan bermanfaat .
Apabila orangtua mengkondisikan jadwal kegiatan anak setiap hari penuh dengan acara yang bermanfaat maka akan tidak punya waktu untuk bermain game. Dengan demikian anak akan selamat dari terjerumus dalam permainan game. Mendaftarkan anak di berbagai jenis lembaga pendidikan, kursus dan latihan sesuai dengan bakat dan potensi anak bisa diupayakan oleh orangtua.
5. Tidak dibatasi waktu saat anak bermain game
Dalam keadaan tertentu, ada sebagian keluarga yang tidak dapat menghindari keberadaan sarana yang dapat digunakan utuk bermain game seperti HP maupun komputer. Ada juga orangtua yang memerlukan HP untuk komunikasi dengan anak di saat sedang berjauhan seperti saat sedang sibuk bekerja di tempat yang jauh dari rumah. Keluarga yang membuka usaha jual HP di rumah juga sulit menghindarkan anak dari gadget karena alat itu ada di rumah di tengah – tengah keluarga.
Dalam keadaan seperti ini orangtua dapat melakukan upaya membatasi anak dalam bermain game. Durasi yang dibatasi dengan porsi yang terkendali dengan baik dan waktu yang ketat, insya Allah akan mengantisipasi terjadinya kecanduan game.
Memberikan kegiatan kegiatan yang positif dan terjadwal setiap hari sangat bagus untuk dilaksanakan. Membiasakan anak membaca al Qur’an di rumah, ada jadwal belajar di rumah secara rutin juga sangat bermanfaat dalam hal ini.
6. Tidak tahu bahaya dan akibat buruk bermain game.
Bisa jadi anak yang sering bermain game tidak mengetahui akibat buruk dan bahayanya. Dalam keadaan seperti ini, anak akan merasa bebas, tanpa beban dan merasa nyaman menikmati asyiknya bermain game.
Pengetahuan akan bahaya dan efek buruk bermain game dapat meberikan pengaruh kejiwaan anak dan merasa tidak nyaman saat bermain game. Orangtua perlu menjelaskan bahwa bermain game dapat mengakibatkan kerusakan mata akibat pengaruh sinar laptop atau HP. Sangat banyak contoh anak yang mngalami gangguan mata gara gara sering bermain game. Hal yang lebih penting adalah anak perlu disadarkan bahwa sering bermain game merupakan perbuatan menyia – nyiakan harta dan waktu serta tenaga yang diberikan oleh Allah.
Perlu diberikan pengertian kepada anak bahwa bermain game termasuk perbuatan yang tidak mendatangkan manfaat sehingga temasuk kebiasaan yang tercela dan sangat tidak pantas dikerjakan oleh anak yang sholih. Pendekatan dan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak sangat menentukan keberhaslian penyampaoan nasehat dan pengetahuan ini.
Inilah beberapa penyebab beserta alternatif solusi yang dapat dilakukan oleh orangtua berkaitan dengan problema seputar anak kacanduan game. Tentu saja masih banyak lagi yang menjadi faktor penyebab beserta alternatif penyembuhannya.
Dari semua upaya yang kita lakukan tentu saja berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah adalah langkah yang pertama dan utama sebelum usaha usaha bersifat kauniyah kita lakukan. Sebagai seorang yang beriman tentu sangat menyadari bahwa apa pun yang kita inginkan dan usahakan tidak akan dapat berhasil kecuali atas pertolongan dan rahmat Allah ta’alla.
Berdoa memohon kebaikan untuk anak sudah semestinya dilakukan di setiap panjatan dan lantuna do’a. Waktu sujud, saat sedang berada di relung waktu sepertiga malam atau saat saat mustajab lainnya, seyogyanya orangtua selalu memohon pertolongan Allah untuk kebaikan anak.
A. Purnomo