Sebagaimana halnya makhluk hidup pada umumnya, anak-anak memiliki keterbatasan yang tidak mampu dilampauinya. Akal dan pikirannya sedang dalam masa pertumbuhan. Setiap proses tumbuh kembang anak ada tahapannya. Tidak bisa meloncat ke tahapan yang lebih tinggi tanpa melalui tahapan sebelumnya. Sehingga orang tua tidak boleh menggegas anak serba bisa, agar anaknya terlihat lebih hebat dibanding anak lain yang seumuran dengannya.
Pengetahuan kedua orang tuanya tentang tingkatan pertumbuhan akal anak, akan cukup memudahkan mereka untuk memberikan solusi bagi berbagai masalah yang dihadapi anak. Karena dengan pengetahuan tersebut, mereka mengetahui kapan harus berbicara pada anak, kalimat apa yang harus dipakai, dan pola pikir apa yang akan diungkapkan kepada anak. Maka itu orang tua yang telah Allah amanahkan anak, harus terus belajar tentang parenting agar tidak salah dalam mendidik anak. Salah satunya dengan belajar dari Rasulullah dalam mendidik anak dalam Prophetic Parenting ini.
Dalil atas hal di atas, adalah peristiwa sebelum perang badar. Dimana waktu itu para sahabat menangkap seorang anak kecil yang menjadi penggembala kaum Quraisy. Mereka menanyakan jumlah kaum Quraisy yang akan berperang dengan kaum muslimin. Namun anak itu tidak menjawab, sehingga ada sahabat yang emosi dan memukulnya. Hal ini terus berlangsung hingga Rasulullah datang kepada mereka.
Rasulullah tidak diragukan lagi kemampuannya sebagai seorang psikolog yang ulung. Beliau tidak bertanya kepada anak itu dengan interogasi yang keras, atau memukulnya sebagaimana para sahabat yang sebelumnya. Namun beliau hanya bertanya kepada anak tersebut “Berapa banyak unta yang mereka sembelih?”. Anak itu menjawab, “Antara 9 hingga 10 ekor”. Lalu Rasulullah berkata kepada para sahabat, “Jumlah orang Quraisy yang akan berperang dengan kita adalah 900 hingga 1.000 pasukan.“
Luar biasa! Betapa bijak dan cerdiknya Rasulullah ketika berbicara kepada anak tersebut. Hal ini dilakukan Rasulullah, karena beliau memahami bahwa anak kecil itu belum memahami hitungan ratusan apalagi jumlah ribuan. Kemampuan akal anak itu hanya sampai sampai satuan hingga puluhan. Sehingga dia hanya bisa menghitung unta yang dibawa pasukan Quraisy untuk disembelih sebagai bekal perang dan hitungan itu sudah cukup besar bagi mereka.
Dan contoh yang lain, tentang bagaimana orang tua berbicara kepada anak sesuai dengan kadar akal mereka. Anas bin Malik yang masih kecil dan tinggal di rumah Rasulullah untuk menjadi khadim (pembantu). Anas kecil kurang bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dengan baik, bahkan kadang lupa. Sehingga keluarga Rasulullah sering memarahi dan kadang menghukumnya.
Namun Rasulullah yang mengetahui batas kemampuan seorang anak berkata kepada keluarganya, “Biarkanlah dia, kalau dia mampu pasti dia akan mengerjakan dengan baik. Seorang anak anak memiliki kemampuan berpikir dan kekuatan tubuh yang terbatas. Sehingga menuntutnya mengerjakan sesuatu diluar batas kemampuannya sama halnya dengan menabur benih di udara”.
Jika kita berdialog kepada anak diluar batas kemampuan berpikirnya. Maka pastinya kita akan menemui pertengkaran anak, pembangkangan anak, bahkan kebodohan anak karena dia terpaksa mengejarkan sesuatu diluar batas kemampuannya. Bukankah jika ada orang dewasa yang kita suruh untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan bahasa yang tidak mereka mengerti, maka dia tidak akan dapat melakukan perintah kita dengan baik? Sehingga kita mencelanya, bahkan memukulnya? Apakah itu adil? Maka demikian juga dengan anak-anak.
( Dinukil dari Father Comunity – Abdul Hafidz Suwaid )