Renungan Kita : Pantaskah Aku Punya Anak Sholih ???

Memiliki buah hati yang sholih dan sholihah tentu dambaan setiap orangtua.
Betapa bahagianya punya anak yang menenangkan nan menyejukkan hati.

Duhai… tenangnya hati saat telah singgah di dermaga usia senja, sembari memandang buah hati yang taat kepada Allah dan berakhlak mulia.

Banyak ayat al Qur’an dan hadits nabi shalallahu ‘alaihi wa salam yang menerangkan betapa besarnya keutamaan memiliki buah hati yang sholih dan sholihah.

Allah Ta’ala berfirman tentang hamba-Nya yang memohon istri dan keturunan yang menyejukkan hati sebagaimana surat Al Furqon 74 :

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqon: 74).

“Qurrata A’yun”, begitulah sebutan untuk anak dan istri dambaan orang yang beriman.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan dalam tafsir Kalimurrohman, “Menyejukkan mata orang tua adalah ketika melihat anak dalam keadaan taat kepada Allah, berilmu, beramal.

” Ini do’a kebaikannya pada anak dan istrinya, namun itu juga termasuk do’a untuknya. Karena istri dan anak yang menjadi penyejuk mata akan kembali manfaatnya pada suami. Inilah yang dijadikan karunia untuk suami.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 587).

Ibnu ‘Abbas berkata,

يعنون من يعمل بالطاعة، فتقرُّ به أعينهم في الدنيا والآخرة.

“Yaitu mereka (ibadurrahman) meminta agar mendapatkan keturunan yang gemar beramal ketaatan sehingga sejuklah mata mereka di dunia dan akhirat.”

‘Ikrimah berkata,

لم يريدوا بذلك صباحة ولا جمالا ولكن أرادوا أن يكونوا مطيعين.

“Qurrata A’yun”, begitulah sebutan untuk anak dan istri dambaan orang yang beriman.

Dari beberapa penjelasan di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Qurrata A’yun adalah keturunan yang beriman, bertaqwa kepada Allah, mengerjakan amal – amal sholih, menunaikan ketaatan kepada Allah.
Keberadaan anak yang demikianlah yang akan menyejukkan dan menenangkan hati orangtua bukan sebaliknya.

Hasil Sesuai Dengan Usaha

Kata pepatah ” Al jazaa’-u min jinsil ‘ amal“. Artinya hasil itu sesuai usaha.

Semua keturunan nabi Adam dilahirkan dalam keadaan tidak tahu apa apa. Belum tahu mana perkara yang baik dan yang buruk. Belum tahu perkara halal dan haram. Belum mengerti ilmu apa pun dari urusan dunia terlebih berkaitan dengan akhirat.
Allah ta’alla berfirman :
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. ( Q.S.An-Nahl 78 ).

Demikianlah, anak yang tumbuh sholih dan sholihah tidak muncul dengan tiba tiba begitu saja. Keberadaannya, perlu diusahakan oleh orangtuanya.

Orangtua pendamba qurrata a’yun haruslah memberikan pendidikan. Membekali ilmu agama secara kontinu dan berkelanjutan. Secara bertahap menanamkan aqidah yang benar. Bila tidak mampu mendidiknya sendiri maka mencarikan pendidik yang memiliki kapasitas ilmu dan akhlaq yang mulia. .

Tak hanya itu, orang tua juga harus menjaga dan membentengi anak dari berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak agama dan akhlaqnya.

Semakin besar kesungguhan orangtua dalam mendidik dan menyolihkan anak, Insya Alloh hasil yang akan di raih pun akan semakin nyata.
Aneh rasanya, jika ada orang tua yang menginginkan anak sholih namun harapan itu tanpa jerih payah dan usaha untuk mewujudkannya.

Tanaman Yang Subur Tak Tumbuh Di Tanah Tandus

Hal lain yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan membentuk anak sholih adalah keadaan tempat tinggal anak.
Sebagaimana kita melihat tanaman yang tumbuh subur, dedaunannya yang lebat nan rindang. Ranting rantingnya yang kokoh dan bercabang. Buah buahnya yang ranum bergelantungan di setiap dahan. Adakah tanaman yang demikian itu tumbuh di tanah yang kering dan tandus ?
Tentu saja kita sepakat menjawab “Tidak !”.
Tidak mungkin tumbuhan subur, rindang berbuah lebat hidup di tanah yang kering nan gersang.

Demikian pula halnya dengan anak yang sholih dan sholihah.
Dia hanya bisa tumbuh di tempat tinggal yang subur dengan unsur-unsur pemupuk kesholihan. Tempat tinggal yang mendukung terbentuknya berbagai kebaikan. Kebiasaan hidup yang menyajikan keteladanan menunaikan ketaatan kepada Allah. Pola hidup yang mengukir pengalaman riil melakukan amal- amal sholih.

Kesholihan anak dapat tumbuh subur jika suasana kehidupan keluarga bernuansa relegius, sarat adab dan penuh kasih sayang. Kedua orang tua perlu menciptakan suasana keluarga yang mendukung dan mendorong anak bersemangat menuntut ilmu dan tekun beribadah sesuai tingkat tingkat kemampuannya.
Sebesar apa kondusifitas tempat tinggal mendukung pertumbuhan kesholihan anak, sebesar itu pula keberhasilan memiliki anak sholih dan sholihah akan diraih.

Selalu Menjaga dan Merawat

Sebagaimana membenih tanaman dengan bibit yang sudah pilihan dan unggul. Jika pemilik tanaman tidak rajin menyirami setiap pagi dan sore hari. Tidak menyiangi dari berbagai gulma yang dapat mengganggu pertumbuhannya. Tidak menyemprot insektisida agar terbebas dari hama dan berbagai penyakit yang membahayakannya. Maka tanaman itu bisa saja layu atau mati karena serangan hama walaupun tumbuh di tanah yang subur.

Anak pun perlu dijaga dan diselamatkan dari berbagai pengaruh negatif yang merusak moral. Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, semakin banyak contents media sosial yang membahayakan aqidah dan moralitas anak. Pengaruh gaya hidup, pemikiran menyimpang dan sejenisnya merupakan hama dan virus yang dapat merusak kesholihan anak sebagaimana rusaknya tumbuhan oleh hama.

Anak Sholih Adalah Karunia Allah

Satu hal terpenting sebagai indikator kepantasan orang tua memiliki anak sholih adalah kerajinan dan ketidakputus asaan melantunkan do’a.
Hal ini karena keberadaan anak sholih termasuk karunia Allah semata.
Berbagai upaya yang dilakukan manusia hanyalah sekedar menempuh sebab. Tidak lebih daripada itu. Di balik sebab, ada pembuat sebab. Dialah Allah ta’alla.

Sebagai contoh riilnya adalah nabi Ibrahim ‘alaihi salam. Beliau pantas dikaruniai anak yang sholih yakni nabi Ismail dan nabi Ishaq karena beliau tiada henti melantunkan doa kepada Allah.
Saat Nabi Ibrahim datang ke Baitul Maqdis (Palestina), dengan ditemani istrinya ( Sarah), memanjatkan doa.
Do’anya diungkapkan dalam Al Quran surat As Saffat ayat 100 :
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.”

Di antara do’a lain yang beliau alaihi salam panjatkan kehadirat Allah adalah :
Ya Rabb kum jadikanlah aku orang yang menegakkan sholat dan juga anak-anakku. Ya Rabb ku, terimalah doaku.”

Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala.

Panutan kita Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, pun sering berdoa untuk anak-anak beliau dan untuk anak-anak kaum muslimin.

Imam Bukhari meriwayatkan dari hadits Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu alaihi wa salam pernah memegang Usamah bin Zaid dan Al Hasan bin Ali seraya berdoa,
Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya, maka cintailah mereka berdua.”

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mendoakan kebaikan dunia dan akhirat untuk Anas bin Malik,

Ya Allah, karuniakanlah harta dan anak kepadanya dan berkahilah dia.”

Demikianlah di antara indikator yang menunjukkan kelayakan orangtua dikaruniai anak yang sholih dan sholihah.

Dengan merenungkan hal hal di atas, selanjutnya kiranya kita semua perlu introspeksi pada diri kita masing masing. Sejauh mana kepantasan kita memiliki anak yang sholih dan sholihah.
Semakin besar usaha dan kesungguhan kita, insyaa Allah semakin layak dan pantas untuk mendapatkannya.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua sehingga kita termasuk orang tua yang pantas dikaruniai anak yang sholih dan sholihah. Yakni anak yang menjadikan sebab masuknya orang tua ke dalam surga, Sebagaimana hadits nabi dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي اْلجَنَّةِ, فَيَقُوْلُ: أَنَّي لِي هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, maka ia berkata,”Dari manakah balasan ini?” Dikatakan,” Dari sebab istighfar anakmu kepadamu”.( Shahih Sunan Ibnu Majah ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *