Mutiara Seminar Suprarasional : “Cerdaskan 3 Antena Untuk Raih Kesejahteraan Hidup”

Sabtu pagi menjelang siang, 26 November 2022 cuaca tak begitu cerah. Gumpalan awan yang bergelantungan di langit meredupkan cahaya matahari.
Walau suasana tak begitu sumringah, namun tetap saja gedung PGRI kabupaten Sukoharjo dibanjiri hampir seribu guru SD MI Muhammadiyah se-kabupaten Sukoharjo.
Termasuk para guru MIM Pojok tak terkecuali, ikut menggemakan gedung tersebut.

Para pejuang pendidikan di lingkungan perserikatan Muhammadiyyah hadir untuk mengikuti Seminar Pendidikan suprarasional yang diselenggarakan oleh BKSM ( Badan Koordinasi Sekolah Muhamadiyah) Kabupaten Sukoharjo.
Mengambil tema Menjadi Guru Yang Ikhlas, Hebat dan Sejahtera, panitia mengundang Dr. Ir. R. Ridwan Saputra,M.Si, dari Kota Bogor sebagai pemateri.

Dr. Ridwan Saputra adalah seorang penggagas dan pendiri Klinik pendidikan MIPA, atau lebih dikenal dengan KPM yang berlokasi di Ciomas, Bogor, Jawa Barat.

Pemateri yang meraih gelar Doktor Pendidikan Islam dengan predikat Cumloud di Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor ini selain sebagai trainer nasional juga peraih penghargaan Satya Lencana Wira Karya dari Presiden RI tahun 2007.

Seminar suprarasional yang dikemas special untuk guru ini adalah seminar yang kedua. Seminar pertama digelar pada tanggal 24 November yang lalu di SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo, diikuti oleh para kepala sekolah SD,MI Muhammadiyah se-kabupaten Sukoharjo.

Setelah memperkenalkan diri, pemateri memaparkan materi seminar bahwa Allah memberikan 3 antena pada diri manusia. Ketiga antena itu berupa hati, pancaindera dan akal. Antena tersebut perlu diasah hingga cerdas agar dapat membuahkan kehidupan yang sejahtera.
Antenan hati diilustrasikan seperti sumbu y yang mengarah vertikal karena berhubungan dengan Allah. Adapun antena akal dan panca indera adalah sumbu x dengan arah horizontal.

Banyak orang yang salah dalam menjalani kehidupannya disebabkan karena ketidakcerdasan di salah satu antena tersebut. Kesalahan tersebut mengakibatkan kesusahan dan penderitaan hidup.

Contoh kasus yang menunjukkan ketidakcerdasan hati seseorang adalah manakala ada orang yang lebih suka menabung uang di bank daripada menabung di sisi Allah melalui kotak kotak infaq dan sedekah. Padahal, jika orang tersebut ditanya, manakah simpanan uang yang lebih aman dan berkembang lebih banyak, di simpan di bank ataukah di sisi Allah ? Tentu orang tersebut akan menjawab uang yang disimpan di sisi Allah. Fenomena ini menunjukkan bahwa orang tersebut cerdas akal namun tidak memiliki kecerdasan hati. Terbukti pada praktek riilnya, lebih percaya kepada bank daripada kepada Allah.

Contoh lainnya adalah orang yang mengajarkan ilmu untuk mendapatkan keuntungan materi/ uang.
Bahwa ilmu adalah hal yang goib. Ilmu adalah hal yang sangat mulia. Maka selayaknya jika orang yang mengajarkan ilmu dibayar dengan yang bayaran yang mahal juga yakni berupa pahala.

Termasuk tanda yang menunjukkan antena hati yang kurang cerdas adalah tidak memahami urgensi pahala. Dia lebih mengedepankan materi berupa uang daripada pahala. Padahal sebenarnya dengan pahala yang diraih melalui mencari ridho Allah, jauh berharga, akan memberikan solusi dan keberuntungan yang lebih besar.

Beliau menceritakan pengalaman pribadinya bahwa sekitar tahun 2000-an setelah meraih kejuaraan di event Kompetisi guru beliau membuka private matematika. Biayanya sekali datang bayar 100 ribu rupiah. Kadar rupiah yang nilainya di waktu itu cukup mahal. Secara matematis dengan mendapatkan keuntungan berupa uang yang banyak, berharap akan bisa menjadi orang yang kaya. Namun kenyataan yang dihadapi tidaklah seperti yang dibayangkan. Bersamaan dengan adanya income yang banyak, ternyata sering terjadi peristiwa yang menguras keuangan seperti anak sakit, dan sebagainya. Income yang banyak ternyata pengeluarannya juga banyak. Beliau mencoba untuk introspeksi dan meyaqini bahwa ada yang salah dalam diri.

Kemudian beliau merubah mindset bayar private seikhlasnya. Mengajar berharap keridhoan dan pahala Allah. Ternyata Allah memberikan balasan di luar perhitungan materi. Salah satu balasan dari Allah adalah Allah dimudahkan
urusan. Beliau sebutkan, sekedar sebagai contoh riil, takala anaknya yang kelas 3 SMP mengikuti lomba, berhasil menjadi juara 2 dan mendapatkan beasiswa masuk sekolah favorit yang diidamkan. Mendapatkan gratis pembayaran SPP selama 3 tahun yang besaran SPP tiap bulannya adalah 6 juta.

Mengalihkan niat dan tujuan bekerja dari mencari keuntungan materi menjadi mencari ridho dan pahala dari Allah adalah solusi untuk dapat meraih hidup sejahtera. Tidak ada alternatif lainnya.
Menjadikan diri sebagai karyawan karyawati Allah. Bekerja, mengajar dengan niat dan tujuan menggapai ridho Allah. Nantinya Allah yang akan memberikan balasan sesuai dengan cara-Nya. Dengan menjadi karyawan Allah, maka Allah akan memberikan solusi dan jalan keluar sesuai kehendak-Nya.

Bagaimana caranya agar bisa menjadi karyawan Allah ?

Agar seseorang dapat menjadi karyawan Allah maka harus melakukan 3 hal :

  1. Meniatkan dirinya menjadi karyawan Allah.
    Hal ini direalisasikan dengan ketika bekerja tidak meniatkan mencari keuntungan materi namun mencari pahala dari Allah.
  2. Harus tetap dan terus belajar.
    Belajar akan menambah ilmu. Dengan bertambahnya ilmu akan memberikan petunjuk kepada dirinya untuk bisa mempuh jalan yang mendatangkan ridho dan pahala dari Allah. Tanpa ilmu seseorang tidak mengetahui bagaimana cara beraktivitas dan bekerja yang dapat mendatangkan ridho Allah. Tidak tahu pula perkara apa saja yang diridhoi Allah.
  3. Rajin ibadah kepada Allah.
    Kedekatan seseorang kepada Allah dengan cara berusaha menunaikan berbagai macam ibadah adalah kunci kesejahteraan hidup. Dengan rajin beribadah maka berarti kita mengisi pahala. Balasan pahala jauh lebih besar nilainya. Ukuran dan kadar pahala tak terbatas karena di simpan Allah di alam goib.
    Adapun mengisi tabungan berupa uang, seperti mengisi air dalam gelas. Jika telah penuh maka air akan tumpah. Begitulah orang yang menjadikan materi sebagai raihannya. Sangat terbatas dan ada batasannya.

Selanjutnya pemateri menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah melimpahkan karunia dan rezeki-Nya di manapun manusia berada. Keberadaan rezeqi seperti keberadaan sinyal WiFi. Jika kita ingin menangkap sinyal maka kita harus tahu passwordnya.
Maka password inilah yang harus kita ketahui. Tiga langkah yang telah disampaikan kepada para peserta seminar, adalah kunci kunci meraih rezeqi yang sebenarnya yang dapat menghantarkan hidup sejahtera.

Paparan materi seminar selama sekitar 3 jam diikuti dengan sangat antusias dan penuh perhatian dari para peserta. Peringatan penting yang disampaikan pemateri yang merupakan pelatih team IMCO, EMIC dan ITMO ini adalah agar dalam bekerja meniatkannya demi mencari ridho dan pahala dari Allah semata. Tidak menjadikan uang sebagai tujuan dalam mengajar disampaikan berulang dengan contoh contoh praktis. Adalah nasehat yang solutif dan sarat nilai nilai keimanan.

Menghayati dan meresapi paparan yang disampaikan pemateri, teringat kita dengan hadits nabi shalallahu ‘alaihi wa salam yang telah memperingatkan akibat buruk orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya hidupnya. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َمنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi).

Semoga bisa manjadi penunjuk jalan bagi kita semua untuk menggapai kesejahteraan hidup.

Aamiin..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *