Ada aturan hidup dalam keluarga yang sangat sederhana. Membantu pekerjaan rumah. Itu bukanlah hukuman, melainkan persiapan hidup. Di sanalah anak belajar rasa hormat, kedisiplinan, keteraturan, dan adab hidup bersama.
Anak yang sejak kecil dilatih mencuci piringnya sendiri, membereskan mainannya, merapikan bajunya, dan menata kasurnya, akan belajar menghargai apa yang ia miliki. Ia juga akan belajar merawat tempat tinggalnya.
Dengan begitu, ia memahami bahwa rumah bukanlah hotel yang semua serba dilayani.
Rumah adalah tempat hidup bersama orang tua dan saudara, tempat setiap penghuni ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan dan kerapian.
Para ulama salaf menanamkan adab ini sejak dini. Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal sejak kecil beliau sudah dibiasakan ibunya untuk menyiapkan keperluannya sendiri sebelum berangkat menuntut ilmu. Dari kemandirian kecil itulah lahir pribadi besar yang teguh dan berwibawa.
Sebagian ulama salaf berkata:
“Barang siapa tidak dibiasakan menanggung kesulitan sejak kecil, ia akan menanggung kehinaan ketika dewasa.”
Kedewasaan seseorang dimulai ketika ia berhenti berharap orang lain memikul beban yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.
Membesarkan anak yang terlalu dimanja mungkin terasa lebih mudah. Namun itu hanya akan melahirkan orang dewasa yang tidak siap menghadapi kehidupan.
Anak yang tidak mau mencuci piringnya sendiri sebenarnya bukan sekadar bermasalah dalam kedisiplinan. Ia sedang belajar sebuah pelajaran berbahaya:
bahwa setiap kekacauan yang ia buat, akan ada orang lain yang membereskannya.
Mungkin terlihat sepele, hanya soal piring.
Namun di balik itu, ada cara pandang hidup yang sedang terbentuk.
Setiap kali orang tua membereskan piring bekas makan yang ditinggalkan anaknya, ada pesan tersirat yang masuk ke dalam jiwanya:
“Kamu tidak perlu bertanggung jawab, biar orang lain saja yang melakukannya.”
Pelajaran ini akan meresap perlahan, lalu tumbuh menjadi sifat malas, tidak mandiri, mudah mengeluh, dan selalu berharap dilayani.
Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah berkata:
“Seorang mukmin adalah pemimpin bagi dirinya; ia mendidik dan menuntunnya karena Allah.”
Artinya, orang yang baik adalah orang yang mampu mengatur dirinya sendiri, bukan selalu bergantung pada orang lain. Anak yang tidak pernah diajarkan tanggung jawab, akan tumbuh menjadi pribadi yang senang menerima bantuan, tetapi enggan memberi bantuan.Padahal, membesarkan anak yang mandiri memang butuh penegasan.
Aturannya sederhana dan tidak bisa ditawar :
Jika kamu membuat kekacauan, bersihkan.
Jika kamu memakai sesuatu, cucilah.
Jika kamu membuat berantakan, rapikan.
Jika kamu tinggal di sebuah rumah, ikutlah berkontribusi.
Inilah pelajaran dasar dari hal kecil bernama piring bekas makan. Dari sanalah, karakter dan masa depan anak mulai terbentuk. Sebagaimana ungkapan para salaf:
“Adab sebelum ilmu, dan tanggung jawab sebelum kedudukan.”
Semoga bermanfaat, dan semoga Allah memberkahi kita dan keluarga kita.
Baarakallahu fiikum wa ahlikum.