Sebuah Refleksi Kisah Nyata Penuh Hikmah
Kisah Nabi Nuh ‘alaihissalām dalam Al-Qur’an bukan sekadar cerita sejarah, tetapi nasehat sepanjang zaman bagi para orang tua untuk menyelamatkan keluarga dari badai fitnah kehidupan. Di antara pelajaran terbesarnya adalah bahwa keselamatan sejati adalah karena keimanan kepada Allah yang diimplentasikan dengan amal sholih.
Nabi Nuh ‘alaihi salam memanggil putranya untuk naik perahu, menggapai keselamatan dengan panggilan iman meninggalkan kekufuran. Allah menggambarkan dialog menyayat hati antara Nuh dan putranya dalam firman-Nya:
قَالَ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ
“Wahai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” (QS. Hūd: 42)
Namun sang anak memilih gunung, bukan iman, hingga Allah menutup kisah itu dengan ketegasan:
إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ
“Sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu; itu karena perbuatannya yang tidak saleh.” (QS. Hūd: 46)
Beberapa faidah yang dapat kita ambil dari kisah Nabi Nuh bersama putranya antara lain :
Iman Adalah Pondasi Keluarga
Para ulama salaf menegaskan bahwa hakikat keluarga bukan sekadar hubungan darah, tetapi ikatan iman dan amal sholih. Ibn Katsir berkata, “Yang dimaksud ‘bukan keluargamu’ adalah bukan dalam ikatan agama, meskipun secara nasab ia adalah anaknya.”
Artinya, anak adalah amanah, bukan jaminan, dan orang tua berkewajiban menghadirkan rumah yang menumbuhkan iman, bukan sekadar tempat tinggal.
Anak Tetap Memiliki Kehendak, Orang Tua Hanya Bisa Mengupayakan Petunjuk
Kehendak baik orangtua tidak mesti sejalan dengan keinginan anak. Anak anak terkadang merasa lebih tahu, merasa benar. Terlebih di zaman sekarang, derasnya berbagai informasi, tayangan dan kontens tanpa filter di media sosial bisa memalingkan pikiran dan hati dari jalan agama. Berbagai subhaat bisa merusak aqidah anak-anak. Putra nabi Nuh alaihi salam memilih gunung untuk berlindung dari luapan banjir daripada mengikuti panggilan keimanan, berlindung kepada Allah.
Setiap orangtua dituntut untuk berusaha semaksimal mungkin dan bersabar dalam menyeru ke jalan iman. Namun, secerdas dan sehebat apa pun kita mendidik, hasil akhir berada di tangan Allah. Bahkan anak seorang nabi pun tidak mengikuti ayahnya.
Allah berfirman :
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai.” (QS. al-Qaṣaṣ: 56)
Keluarga Adalah Perahu Keselamatan
Tantangan anak-anak hari ini bukan lagi banjir besar, tetapi banjir konten, gadget, pergaulan, dan nilai yang berubah cepat. Maka perahu penyelamat hari ini adalah : rumah yang dipenuhi nilai nilai nilai keimanan, lantunan doa bukan suara bentakan, interaksi penuh cinta bukan hanya instruksi, teladan kesholihan orang tua, bukan sekadar kata-kata, komunikasi hangat bukan jarak emosional, ketaatan kepaada syariat Allah bukan kelonggaran tanpa arah.
Sebagaimana dikatakan Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu:
“Didiklah anak-anakmu, karena mereka hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kalian.”
Ini adalah pengingat bahwa orang tua harus adaptif : mendidik dengan iman, tetapi memahami realitas psikologi dan perkembangan anak.
Setiap Orang Tua Adalah Nakhoda
Perahu Nabi Nuh mengajarkan bahwa keluarga harus punya arah, visi, dan kompas nilai yang jelas. Jika nakhoda tidak memimpin, perahu akan hanyut. Jika orang tua lalai, anak akan mencari gunung-gunung lain untuk disandari. Bisa jadi mereka berlari ke prestise, teman, atau dunia digital.
Maka, rumah mesti dilengkapi dengan sarana penyelamat seperti tilawah Al Qur’an, kokohnya hubungan antar hati semua anggota keluarga, praktik adab adab islam dalam praktek kehidupan sehari-hari, amaliyah berbagai macam ibadah sunnah, pendampingan belajar, dan doa yang tidak pernah putus. Keluarga yang dilengkapi dengan berbagai sarana mengokohkan iman, akan menjadi perahu yang menyelamatkan dari ombak, fitnah kehidupan. Allah memuji akan memberi keselamatan takala terpenuhi sarananya :
فِي سَفِينَةٍ أَجْرَيْنَاهَا لَهُمْ
“Dalam sebuah perahu yang Kami selamatkan mereka dengannya.” (QS. Yāsin: 41)
Marilah kita bangun “Safīnatun Najāh” dengan iman, kesabaran, ilmu, dan kasih sayang di atas tawakkal kepada Allah ta’alla.
Semoga Allah menjadikan keluarga kita termasuk yang dinaungi hidayah, diselamatkan dari fitnah zaman, selamat dalam perjalanan pulang sampai di rumah nan indah di surga-Nya. Aamiin Yaa Robbal ‘aalamiin.